Skripsweet
Bismillahirrahmanirrahim.
Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bukan? ceritanya, dosen pembimbing yang dulunya Manda singkat doping sudah terpampang nyata di kelas. Seperti dugaan Manda, dr. Zen Ahmad SpPD, ketua bagian paru. Bukan songong, tapi sejauh gosip berkembang cuma Manda dan Jenny yang nekat ngambil topik skripsi tentang TB. Jadi ya, Insyaallah memang dapat beliau, dan kenyataannya memang beliau.
Sedari awal sekali, Manda jauh-jauh dari lamar-melawar doping aka dosbing. Secara yang Manda punya itu bukan apa-apa, sementara dosen bersangkutan adalah pakar di bidang yang ingin Manda olah. Yakali, nikahan aja butuh mahar ga cuma cinta, nah Manda bawa apa? -_-
Di lain pihak, anak sekosan sudah melamar dosen impian, apalagi sekelas, mungkin diriku, 1 dari 100 yang sedikitpun tak hendak berbuat serupa.
Malah, yang buat Manda rada serem itu judulnya. Hana laen. Sebelumnya, Manda berhenti di pilihan obgyn dan respirasi, yaitu pil kb dan tb paru. Belum tahu mau dibawa kemana, mau diperbuat macam apa, didiskusikan bersama siapa. Taunya cuma pil kb dan tb paru. Titik. Hingga akhirnya perbincangan dengan kakak 2008 mengantarkan Manda ke pilihan respirasi. TB paru. Sejauh ini, masih berhenti di titik TB yang lagi-lagi ga tau mau dimacam-apakan.
Jadi, di suatu siang, waktu masyarakat kampus berbondong-bondong ke rsmh, dan anak sekosan bilang mau ngelamar seorang dokter dai bagian anak, tekanan yang acap kali disebut ‘the power of kepepet’ itu mengantarkan Manda ke sebuah topik: MDR pada TB paru. Langsung. Detik itu juga waktu ora bilang mau ke dr. Julius dan Kiki menargetkan parasit. Maka, selesailah 1 topik. MDR pada TB paru.
Malemnya, bergiat mencari bahan skripsi mahasiswa lampau tentang MDR dan tercampaklah ke penelitian-penelitian tentang sistem DOTS yang lagi-lagi berhubungan dengan TB paru. Setelah dikaji-kaji, sistem dots ini tak kalah menarik, ditambah lagi, dari awal niat hati memang ingin mengkaji bagian kesehatan masyarakat, ga pdl-pdl amat, hahaha. Maka, malam itu pulalah topik kedua fix ditentukan.
Waktu disuruh ngesms Asep 3 topik yang kita ajukan, secara asal Manda membuat TB anak pada pilihan ketiga. Wallahu’alam, ga bisa move on dari tb, emang udah berenti di tb kayaknya pencarian topik skripsi ini. Dengan urutan (1) MDR pada TB paru, rencana prevalensi dan faktor resiko, (2) Penilaian sistem dots dalam menanggulangi tb paru dan (3)tb anak. Baca doa, minta restu orang tua, kiim ke asep.
Sampai akhirnya, di suatu malam, Manda chat-chat bergembira dengan seorang mba 09, mba nya bilang topik itu oke, belum ada yang ngangkat (di angkatan beliau mungkin), sampai akhirnya si mba mempertanyakan populasi dan sampel. Mak! Bingung! Tiba-tiba dihadapkan pada kemungkinan indah ‘pasien tb di rsmh ga ada yang mengalami mdr’. Dari sisi pasien, tentulah ini membahagiakan, kalo dari penulisan, acem? Kesimpulan macam apa yang bisa diraih? Layak dilanjut, atau? Sesungguhnya, kalau aja Manda sanggup memperluas cakupan populasi, misal, sekecamatan, dari beberapa puskesmas, itu lebih oke, tapinyaaaaaa terhambat di biaya rekam medik. Ga kuat.
Etiologi semak hati, merekah.
Masih ga ngerti masalah lamar-melamar dosbing 1, malah, kalo udah kedesak gitu, rencana lamar dosbing 2 dulu lah, bukan sok anti mainstream, tapi katek tau nak berbuat apo dengan dosbing 1. Sampe akhirnya, semak hati akibat topik skripsi Manda tuntaskan dengan mengedepankan pilihan judul kedua manda: sistem dots pada tb paru, yang insyaallah, ga akan bersinggungan dengan prevalensi=0.
Tapi, itu tadi, semua tak dapat ditolak dan diraih seenak hati, pengumuman dari upk kebalik. Topik skripsi tetap bertahan di tb, namun di topik tentang mdr. Sip! Mungkin ini yang namanya jodoh tak kan kemana, ya? Lagi, cerita prevalensi=0 menari-nari di kepala.
Huft lah sigoe.

