• 23rd May
    2013
  • 23

Skripsweet

Bismillahirrahmanirrahim.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bukan? ceritanya, dosen pembimbing yang dulunya Manda singkat doping sudah terpampang nyata di kelas. Seperti dugaan Manda, dr. Zen Ahmad SpPD, ketua bagian paru. Bukan songong, tapi sejauh gosip berkembang cuma Manda dan Jenny yang nekat ngambil topik skripsi tentang TB. Jadi ya, Insyaallah memang dapat beliau, dan kenyataannya memang beliau.

Sedari awal sekali, Manda jauh-jauh dari lamar-melawar doping aka dosbing. Secara yang Manda punya itu bukan apa-apa, sementara dosen bersangkutan adalah pakar di bidang yang ingin Manda olah. Yakali, nikahan aja butuh mahar ga cuma cinta, nah Manda bawa apa? -_-
Di lain pihak, anak sekosan sudah melamar dosen impian, apalagi sekelas, mungkin diriku, 1 dari 100 yang sedikitpun tak hendak berbuat serupa.

Malah, yang buat Manda rada serem itu judulnya. Hana laen. Sebelumnya, Manda berhenti di pilihan obgyn dan respirasi, yaitu pil kb dan tb paru. Belum tahu mau dibawa kemana, mau diperbuat macam apa, didiskusikan bersama siapa. Taunya cuma pil kb dan tb paru. Titik. Hingga akhirnya perbincangan dengan kakak 2008 mengantarkan Manda ke pilihan respirasi. TB paru. Sejauh ini, masih berhenti di titik TB yang lagi-lagi ga tau mau dimacam-apakan.

Jadi, di suatu siang, waktu masyarakat kampus berbondong-bondong ke rsmh, dan anak sekosan bilang mau ngelamar seorang dokter dai bagian anak, tekanan yang acap kali disebut ‘the power of kepepet’ itu mengantarkan Manda ke sebuah topik: MDR pada TB paru. Langsung. Detik itu juga waktu ora bilang mau ke dr. Julius dan Kiki menargetkan parasit. Maka, selesailah 1 topik. MDR pada TB paru.

Malemnya, bergiat mencari bahan skripsi mahasiswa lampau tentang MDR dan tercampaklah ke penelitian-penelitian tentang sistem DOTS yang lagi-lagi berhubungan dengan TB paru. Setelah dikaji-kaji, sistem dots ini tak kalah menarik, ditambah lagi, dari awal niat hati  memang ingin mengkaji bagian kesehatan masyarakat, ga pdl-pdl amat, hahaha. Maka, malam itu pulalah topik kedua fix ditentukan.

Waktu disuruh ngesms Asep 3 topik yang kita ajukan, secara asal Manda membuat TB anak pada pilihan ketiga. Wallahu’alam, ga bisa move on dari tb, emang udah berenti di tb kayaknya pencarian topik skripsi ini. Dengan urutan (1) MDR pada TB paru, rencana prevalensi dan faktor resiko, (2) Penilaian sistem dots dalam menanggulangi tb paru dan (3)tb anak. Baca doa, minta restu orang tua, kiim ke asep.

Sampai akhirnya, di suatu malam, Manda chat-chat bergembira dengan seorang mba 09, mba nya bilang topik itu oke, belum ada yang ngangkat (di angkatan beliau mungkin), sampai akhirnya si mba mempertanyakan populasi dan sampel. Mak! Bingung! Tiba-tiba dihadapkan pada kemungkinan indah ‘pasien tb di rsmh ga ada yang mengalami mdr’. Dari sisi pasien, tentulah ini membahagiakan, kalo dari penulisan, acem? Kesimpulan macam apa yang bisa diraih? Layak dilanjut, atau? Sesungguhnya, kalau aja Manda sanggup memperluas cakupan populasi, misal, sekecamatan, dari beberapa puskesmas, itu lebih oke, tapinyaaaaaa terhambat di biaya rekam medik. Ga kuat.

Etiologi semak hati, merekah.

Masih ga ngerti masalah lamar-melamar dosbing 1, malah, kalo udah kedesak gitu, rencana lamar dosbing 2 dulu lah, bukan sok anti mainstream, tapi katek tau nak berbuat apo dengan dosbing 1. Sampe akhirnya, semak hati akibat topik skripsi Manda tuntaskan dengan mengedepankan pilihan judul kedua manda: sistem dots pada tb paru, yang insyaallah, ga akan bersinggungan dengan prevalensi=0.

Tapi, itu tadi, semua tak dapat ditolak dan diraih seenak hati, pengumuman dari upk kebalik. Topik skripsi tetap bertahan di tb, namun di topik tentang mdr. Sip! Mungkin ini yang namanya jodoh tak kan kemana, ya? Lagi, cerita prevalensi=0 menari-nari di kepala.

Huft lah sigoe.

  • 23rd May
    2013
  • 23

selipi

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Lagi-lagi menyaksikan betapa luarbiasanya kuasa sebuah kebenaran. Tergelincir sedikit, termasuklah kiranya orang-orang yang belum menag dalam perang. Terbuai sedikit, menjadi bagian lingkaran setan yang merugikan.

Alhamdulillah. segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

  • 23rd May
    2013
  • 23
Jayalah Dokter Indonesia

rajaharahapp:

Sekedar pengingat, bahwa menjelekkan profesi orang lain tidak akan pernah ada habisnya jika kita melihat dari satu sudut pandang saja. Ada baiknya tulisan dibawah ini dibaca baik baik, agar berhenti menjelek jelekkan profesi kami dengan kata kata kasar yang banyak saya jumpai di berbagai situs internet belakangan ini. 

Kalau dipikir-pikir, entah sejak kapan masyarakat menganggap dokter = kaya, dokter = makmur seperti kebanyakan yang didoktrin kepada kami sebelum memilih jurusan ini ketika akan tamat bangku sekolah di SMA. Bahwa jadi dokter itu pasti senang, jadi dokter itu kaya.  Sehingga jika ada sedikit saja pembicaraan yang mengarah kepada tuntutan dokter tentang kesejahteraan dan katakanlah uang saku/gaji perbulannya yang sangat tidak memadai untuk resiko dan beban kerja yang dihadapi dokter, masyarakat dan media tanpa ampun langsung mencemooh dengan kejam, menganggap seakan dokter mata duitan dan  tidak tulus mengabdi.

nah, mari kita bicara terbuka sekarang…

kita ambil contoh yang paling mudah, dokter PNS. Dokter termasuk pegawai golongan 3B, gaji pokok Rp 2.2 juta plus tunjangan fungsional Rp 300ribu, total Rp 2.6 juta tanpa tunjangan lain yang seharusnya berkaitan dengan resiko profesi. Dokter disama-ratakan dengan PNS bidang lain, yang tidak harus siap sedia 24jam tanpa kecuali, diluar jam kerja karena bisa sewaktu-waktu dipanggil lagi karena ada pasien gawat atau bencana alam ataupun visum, tidak harus masuk piket kerja saat hari raya, tidak terpapar berbagai penyakit mulai dari yang ringan semisal flu sampai yang terberat seperti hepatitis B ataupun HIV. Juga tidak perlu kuatir membawa penyakit2 tersebut ke rumah dalam jangkauan keluarga tercinta, tidak perlu stres karena tiap saat harus terancam resiko malpraktek yang minimal tuntutannya hingga Rp 500juta. Dengan gaji RP 2.6 juta/bulan, mau lunas kapaaan??

tidak ada tunjangan khusus untuk resiko berbagai macam penyakit, tidak ada asuransi khusus untuk dokter, tidak ada sertifikasi, tidak ada remunerasi.  Jangan heran kalau anda semua lihat jika ke puskesmas, lebih banyak “bu dokter” daripada “pak dokter”. Saat tuntutan hidup begitu tinggi, sulit sekali bagi “pak dokter” yang notabene penanggungjawab keluarga untuk tetap “mengabdi” sedangkan ada anak istri yang perlu dicukupi kebutuhannya, ada pendidikan anak yang perlu dipikirkan juga. Mungkin “pak dokter” lebih memilih untuk bekerja di swasta atau meneruskan pendidikannya di jenjang spesialis. Padahal kenyataan pilihan spesialis tersebut pun belum pasti menjadi jalan keluar yang lebih mudah.

dokter mau kerja di swasta?? Sayang sekali, pilihan ini pun tidak selalu bersahabat. Uang duduk di klinik 24 jam rata-rata Rp 100ribu/24 jam, jasmed (jasa medis) Rp 1000/pasien. Tapi jangan dikira yang namanya “uang duduk”, itu berarti kita duduk-duduk saja di klinik sambil ngemil pisang goreng. OOOO tidaak… 24 jam itu betul-betul kerja dan tindakan. Kerja dan tindakan.  Kalau dipikir-pikir jasa medis Rp 1000/pasien, mending jaga parkiran motor di depan klinik. Itupun cuma perlu ada saat yang punya motor datang lagi untuk ngambil motornya, plus modal sebuah peluit. Tidak perlu modal belajar “sepanjang hayat”, tidak perlu ada rasa dihantui bayangan tuduhan malpraktek oleh masyarakat dan media  yang terkadang sok tahu tapi tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya, apa patofisiologi yang terjadi.

Kerja di rumah sakit swasta, terbentur dengan tidak adanya jaminan kesehatan, rata-rata hanya mengontrak dokter tanpa diasuransikan kesehatan, jadi dokter yang terpapar begitu banyak penyakit dan beban kerja yang tinggi harus selalu menjaga kesehatannya. Kalau lagi sial  kena penyakit, ya itu derita ditanggung sendiri, ujung-ujungnya bangkrut karena duit tidak cukup bahkan untuk mengobati diri sendiri.  DKK, Dokter klinik ke klinik, “ngamen”, akhirnya seperti itulah nasib dokter di sector swasta.

Sekolah lagi?? Hahaha, jalan begitu panjaaaang dalam pendidikan dokter umum, 6 tahun lamanya digembleng, toh hasil nya bahkan lebih rendah dibandingkan sopir bus transjakarta. Sabar kalian bilang?? Tidak usah gunakan kata sabar dan mengabdi kepada kami. Kata-kata itu sudah begitu setia menjadi bagian dari kehidupan dokter dan paramedis. Kalau tidak, sudah sedari dulu kami “mogok”. Begitu tidak adilnya pemenuhan kesejahteraan bagi kami para dokter dan paramedis. Bahkan ditambah lagi dengan pejabat pemerintah dan anggota DPR yang terhormat yang semena-mena mencemooh kerja keras dan kerja bakti kami, ditambah lagi pemberitaan media yang jelas-jelas lebih senang menjual berita negative tentang dokter-paramedis dibanding sebegitu banyak positif nya. Buruh tidak digaji dibilang perbudakan, dokter tidak digaji itu pengabdian. Pernahkah ada yang tahu banyak dokter yang PTT didaerah terpencil, rela bekerja tanpa digaji. Ada satu cerita, teman sejawat saya yang PTT di daerah pedalaman. Walaupun hari sudah malam dini hari, tetap memenuhi panggilan keluarga pasien, yang memaksa si dokter untuk melihat keluarganya yang sakit. Setiba di rumah tujuan, si sakit yang dimaksud tadi hanyalah gatal2 dan menurut hemat keluarga pasien, itu adalah penyakit yang harus diobati saat itu juga. Dalam perjalan pulang, sang dokter mengalami kecelakaan patah tungkai bawah, karena mengendarai motor dalam keadaan hujan dan jalan yang licin dan berlumpur (mengingat tempat tugas di daerah pedalaman dan belum begitu banyak akses jalan yang bagus). Dan karena tidak ada biaya, terpaksa memutuskan rawatan dirumah. Pernahkan media memberitakan hal demikian?? Pernahkah masyarakat membaca hal yang demikian?? Masyarakat pun seolah dibutakan oleh janji-janji manis para pemimpin yang seolah-olah menggratiskan biaya kesehatan, padahal nyatanya anggaran kesehatan tidak pernah dinaikkan. Akibatnya dokter-paramedis-manajemen puskesmas dan rumah sakit yang selalu dijadikan kambing hitam.

dokter internship hanya digaji Rp 1.2 juta / bulan. Mereka disebar diberbagai penjuru negeri hanya dengan uang hidup Rp 1.2 juta yang pembayarannya dirapel per tiga bulan tanpa uang kost-uang makan-uang transport. Semua dipukul rata 1.2 juta per orang tanpa melihat dimana dia ditugaskan. Tanpa melihat gimana beban ekonomi di tempat dokter internship ditugaskan. Miris rasanya saat mendengar ada dokter internship uang harus kerja part time di swalayan 24 jam ind*mar*t menjadi kasir. Astagfirullah, ini bukan pengabdian.. sungguh… Ketika saya menceritakan ini ke sensei di Jepang, mereka terkejut dan balik bertanya, kalau memang begitu, bagaimana caranya si dokter tadi bisa fokus untuk kesembuhan pasien?? Bagaimana caranya si dokter bisa full menunaikan kewajibannya, memberikan pelayan maksimal untuk pasien??

Jadi spesialis??
pernah tahu jasa medis untuk seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk operasi SC (Sectio cesarea) dengan resiko 2 nyawa, ibu dan anak?? Hanya Rp 80 ribu per operasi.  Sama seperti biaya masang kaca spion di bengkel mobil. How come?? Yang ditangani ini manusia, bukan mobil. Belum operasi lain semisal laparotomy Rp 100ribu, tonsilektomi Rp 10 ribu. Itu semua sampai kapanpun gak akan pernah bisa membayar kalau suatu saat terkena tudingan malpraktek.

jadi kawan, mohon jangan cemooh kami jika ada dokter-dokter yang terpaksa turun di jalan demi memperjuangkan ketidakadilan ini. Dokter bukanlah dewa, bukan juga makhluk suci. Dokter hanyalah manusia biasa yang memiliki dapur yang harus terus mengepul , memiliki anak istri yang harus dinafkahi, memiliki cita-cita untuk memberi pendidikan yang baik dan layak untuk anak-anaknya. Banyak masyarakat yang bilang dokter Indonesia tidak piawai, tidak peka, tidak mau mendengar keluh kesah pasien. Tidak seperti dokter di negeri tetangga yang begitu baik dan mau mendengar. Apakah masyarakat tahu, disaat yang bersamaan, si dokter sedang pusing memikirkan bagaimana mencari tambahan nafkah di tempat lain,harus memikirkan nafkah anak istrinya dirumah, harus bisa menjamin pendidikan anaknya. Dokter dinegeri tetangga tidak perlu memikirkan tetek-bengek seperti itu, karena semua sudah ditanggung negara. Dan akhirnya mereka bisa full dalam melayani pasien, mendengarkan keluh kesah pasien.

Tidak bisa dipungkiri juga ada beberapa TS dokter yang bisa anda lihat berkebalikan dengan fakta-fakta yang ada, tapi itu semua hanyalah puncak gunung es. Yap, jauh lebih banyak lagi TS dokter yang hidupnya betul-betul “MENGABDI”.

kami sadar, inilah profesi yang telah kami pilih. Harapan kami supaya para petinggi negeri ini, yang duduk di kursi terhormat sana, bisa memikirkan nasib dan kesejahtraan para dokter Indonesia. Bukan demi hidup materialistis, tapi demi hidup yang layak. Sehingga bisa full memberikan pelayan terbaik yang kami bisa untuk masyarakat.

Eijiro Sugiyama Edison MD

Division of Cardiovascular Medicine
Jichi Medical University Tochigi Japan

Dokter Internship RSUD Pariaman
Dokter Internship puskesmas Naras
Pariaman- 2010

Sumber : kompasiana

See?

Saya percaya, semua tindakan dan perbuatan baik kita akan mendapat balasan setimpal, jika tidak di dunia, mungkin di Akhirat kelak. Dan semangat itulah yang membuat orang orang di profesi ini tidak berhenti mengabdi dan mundur hanya karena hujatan hujatan sepihak semata.

(via crescenthemum)

  • 22nd May
    2013
  • 22
  • 22nd May
    2013
  • 22

Ketakutan yang terus numpuk dari kemaren adalah, gimana kalo hasil yang didapatkan adalah 0. Sesungguhnya alhamdulillah, karena itu artinya kemungkinan pasien bersangkutan untuk bisa segera sembuh lebih besar, namun dalam penulisan skripsi ini, yang seperti itu tuh, gimana hukumnya?

Sedang mencari literatur tentang kasus yang akan diangkat. Masih kepikiran topik pertama yang diajukan damun tidak diterima pihak upk. Oh. Apa curhat-curhat bergembira dengan sang pembimbing tentang rencana topik 1, atau bertahan di topik 2? Bimbang.

  • 22nd May
    2013
  • 22
  • 21st May
    2013
  • 21

1. Kalo awak jadi dosen pembimbing, tolak mentah mentah itu
2. Kalo udah tau dari awal dikit, ngapain diambil?
3. Bukan penelitian awak juga, ngapain bayarin rekam medik
4. Tanggung sendiri lah, siapa suruh ambil judul itu!
5. Kalo semua mau gampang, gabisa bilang apa-apa lagi lah awak

Ga pernah santai lah bahas skripsi ama dedek, ada aja kurangnya menurut dia -_____________-

  • 21st May
    2013
  • 21
  • 14th May
    2013
  • 14

Aigo!

Tiba-tiba secara random ditengah rutinitas meringkas bahan skill lab keingat tentang soal MCQ ABO-Rh incompatibility! Pemilik akun, anak gadis yang lagi ngetik ini, berdarah O!

Langsung berdua dengan ora dijangkiti ketakutan ala Ibu yang baik tentang nasib calon janin di dalam rahim. Ah nak, kamu belum ada aja khawatirnya udah segede gini, gimana kalo kamu udah ada, aduh nak terancam beribu insecure parah ini. Mendadak menentukan lokasi lahiran di RS aja, tapinya takut punya kisah-kisah macam putri yang tertukar  =3 

Ujung-ujung nya sih biasa, setelah mengira-ngira tinggi potensial anak, dengan perkiraan tinggi bapak-nya yang masih menang walau tumit sepati kita 10 cm (meski belum ada calonnya) sekarang berandai-andai tentang golongan darah si calon ayah. Uwoooo! Gimana kalo si bapak golongan darahnya AB? Gimana? Gimana? Gimana?

Duh, meminta sampai sedetil itu boleh ga? Yang memfavoriti Umar, tapi juga tercengang pada Machiavelli, Yang nyanyiin  Sting tapi fasih tartil, Yang gondrong-celana jeans-sendal jepit, tapi rutin al-ma’tsurat, dan satu lagi, yang darahnya O+ =)))

  • 12th May
    2013
  • 12
  • a: She doesn't call, she doesn't text
  • b: She's probably just testing
  • a: Testing for what?
  • b: for knowing whether she's missed or not